Info Negara – Fase Kedua pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), geliat perekonomian di kawasan Sepaku, Kalimantan Timur, yang sebelumnya sempat menggeliat kini mulai meredup. Berbeda dengan dua tahun lalu ketika pembukaan proyek IKN membawa angin segar bagi bisnis lokal, kini banyak pelaku usaha—khususnya di sektor akomodasi dan jasa—yang harus berjuang keras mempertahankan operasional mereka.
Dampak paling terasa terjadi pada sektor penginapan dan perhotelan. Jika pada 2023 hingga awal 2024 tingkat okupansi kamar bisa mencapai 50-100%, kini mengisi 10% saja sudah dianggap keberuntungan. Kondisi ini memaksa banyak pengusaha mengubah strategi bisnis, bahkan ada yang terpaksa menutup usaha.
Akomodasi sepi, banyak yang beralih ke sewa bulanan
Ari, pemilik penginapan Anggrek Biru, mengeluh bahwa sejak membuka usahanya pada 2024, ia hanya dua kali menerima tamu.
“Semenjak buka tahun 2024, baru dua kali ada yang nginap. Habis itu, ndak ada tamu sama sekali. Ya Allah, sepi men saiki (sepi banget sekarang),” ujarnya putus asa.
Akhirnya, ia memilih mengontrakkan seluruh fasilitas penginapannya secara bulanan demi menutupi biaya operasional. Nasib serupa dialami banyak pengusaha lain, baik yang mengusung label homestay, villa, guest house, maupun resort. Beberapa bahkan terpaksa memotong harga hingga 50%, dari tarif normal Rp500.000–Rp600.000 per malam menjadi hanya Rp300.000 per malam.
Maulida, pemilik Suatu Building & Rental, juga mengalihfungsikan enam dari total kamarnya menjadi kontrakan bulanan.
“Pembangunan IKN tahap satu memang sudah selesai, tapi beberapa proyek masih dalam masa pemeliharaan. Ada juga beberapa project manager dari BUMN dan swasta yang menyewa kamar secara bulanan,” jelasnya.
Kini, strategi sewa mingguan atau bulanan dengan tarif Rp3–5,5 juta per kamar menjadi pilihan utama para pengusaha untuk bertahan.
Hotel Bintang pun Terimbas, Okupansi Anjlok
Tidak hanya penginapan kecil, hotel berbintang juga merasakan dampaknya. Ferry Angkawidjaya, pemilik Qubika Nusantara, mengungkapkan bahwa tingkat keterisian kamar di hotelnya hanya sekitar 10–15% dari total 206 kamar.
“Semoga pembangunan tahap dua IKN segera berjalan agar geliat ekonomi bisa ramai kembali,” harapnya.

Baca Juga: Kongres IDN 2025 Resmi Digelar di IKN, 200 Diaspora dari Lima Benua Dukung Visi Kota Masa Depan
Swissotel Nusantara masih bisa bertahan berkat penyewaan jangka panjang dari pegawai Sekretariat Kerja Bersama (SKB) Bank Indonesia. Namun, okupansi hanya melonjak signifikan saat ada acara besar atau diklat pemerintah, mencapai 50–60%. Sayangnya, dampak positif ini jarang menjalar ke penginapan yang berada di luar pusat IKN, terutama yang berjarak 7–10 kilometer.
Efek Domino ke Sektor Lain Rental Mobil, Katering, hingga Alat Berat
Lesunya pembangunan IKN fase dua tidak hanya memukul sektor akomodasi. Bisnis rental mobil yang dulu selalu ramai peminat kini sepi.
Penyedia jasa suplai air bersih juga merasakan imbasnya. Di sektor katering, Wiliam, seorang penyedia jasa catering, mengaku penjualannya anjlok dari lebih dari 1.000 porsi per hari menjadi hanya ratusan.
“Sepi sekarang, Mas. Teras eh,” keluhnya.
Puji Asmoro, Direktur CV Morojoyo Rental, mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan penyewa alat beratnya belum melunasi pembayaran. Ia sempat memortal jalan proyek untuk menagih hutang.
Pelaku usaha berharap ada stimulus dari pemerintah atau percepatan pembangunan fase dua agar bisnis mereka bisa kembali bergeliat.
















