“Dari Udara untuk Damai”: Bakesbangpol Jember Ajak Komunitas Radio Bersatu Perkuat Ketahanan Sosial di Era Digital
InfoNegara- Di tengah gempuran informasi digital yang deras dan sering kali membingungkan, gelombang radio ternyata masih menjadi penopang komunikasi yang kuat dan terpercaya. Melalui kegiatan bertajuk Dari Udara untuk Damai, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember mengambil langkah strategis untuk mempererat kolaborasi antara pemerintah dan komunitas radio, demi membangun Indonesia yang lebih damai dan tahan terhadap disinformasi.
Acara yang berlangsung pada 18 Juli 2025 di Jember Pluralitas Hub (JPh)—halaman Kantor Bakesbangpol Jember—ini menghadirkan semangat kebersamaan lintas frekuensi, menyatukan berbagai elemen masyarakat seperti ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia), RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), akademisi, dan perwakilan dinas pemerintah.

Baca Juga : Tom Lembong Divonis 4,5 Tahun Penjara, Klaim Tak Punya Niat Jahat
Komunitas Radio: Penjaga Komunikasi dan Ketahanan Sosial
Dandy Radiant, S.STP, selaku Sekretaris Bakesbangpol Jember, membuka kegiatan dengan pesan yang mengena: “Di saat listrik padam dan sinyal internet hilang, radio masih berbicara.” Ia menekankan bahwa radio bukan sekadar alat penyampai informasi, tapi juga sarana penyatu masyarakat, penjaga nilai-nilai sosial, serta mitra penting pemerintah dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital.
“Dari udara, gelombang suara membawa pesan damai, solidaritas, dan kewaspadaan. Di sinilah kekuatan komunitas radio: mampu menyentuh lapisan masyarakat yang kadang luput dari perhatian teknologi modern,” ujarnya.
Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, Dandy juga memperkenalkan J-KREP (Jember Kesbangpol Rekomendasi Penelitian), sebuah platform layanan daring yang memudahkan masyarakat dan akademisi untuk mengajukan surat rekomendasi penelitian secara online. Solusi digital ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi bisa bersanding dengan tradisi komunikasi lama seperti radio.
Sinergi Pemerintah–Radio: Kolaborasi Bukan Sekadar Wacana
Dalam sesi diskusi, Dima Akhyar, S.H. selaku Sekretaris TP3D Kabupaten Jember, menyoroti posisi strategis ORARI dan RAPI, terutama dalam konteks bencana dan kondisi darurat.
“Radio bisa jadi satu-satunya saluran komunikasi yang bertahan saat gempa, banjir, atau kebakaran. Karena itu, perlu ada pelatihan bersama dengan BPBD dan Diskominfo. Komunitas radio harus dilibatkan dalam sosialisasi Pemilu, kampanye damai, hingga pendidikan kebencanaan,” tegasnya.
Dima juga mengajak pemerintah daerah menjadi fasilitator aktif—bukan hanya menonton dari kejauhan—dalam pemberdayaan organisasi radio, mulai dari regulasi, pembinaan, hingga penguatan infrastruktur komunikasi.
Radio sebagai Ruang Deliberatif dan Demokratis
Melengkapi sudut pandang praktis tersebut, Drs. Itok Wicaksono, M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah Jember, memaparkan konsep Collaborative Governance atau tata kelola kolaboratif. Ia menyebut komunitas radio sebagai ruang deliberatif—tempat publik berdiskusi, menyampaikan aspirasi, dan menyambungkan suara rakyat kepada pengambil kebijakan.
“Dalam masyarakat pedesaan, radio bisa berfungsi seperti musyawarah desa: terbuka, menyeluruh, dan bisa menjangkau semua kalangan. Bahkan di masa krisis, radio komunitas menjadi perekat solidaritas warga.”
Itok menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan komunitas radio bukan hanya dengan alat, tapi dengan kepercayaan dan nilai-nilai sosial yang dibangun dari bawah ke atas.
Literasi Digital dan Kolaborasi Komunikasi yang Inklusif
Sebagai penutup sesi diskusi, Ilham Juniedi Hajir, S.Kom. dari Dinas Kominfo Jember menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang inklusif—terutama bagi masyarakat yang belum tersentuh internet secara merata.
Ia mencontohkan inisiatif Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai bentuk konkret partisipasi warga dalam membangun ekosistem informasi lokal. KIM bukan hanya mengelola website dan konten digital, tapi juga terlibat dalam produksi podcast, edukasi publik, dan bahkan pelaporan berbasis warga.
“Kami bangga, KIM Desa Jambearum di Kecamatan Puger berhasil jadi juara satu se-Jawa Timur dan juara tiga nasional sebagai Desa Maju Informatif. Ini membuktikan bahwa kolaborasi warga dan pemerintah bisa membawa hasil luar biasa.”
Dari Jember, untuk Indonesia Damai
Lebih dari sekadar sarasehan, kegiatan “Dari Udara untuk Damai” menjadi momentum kebangkitan semangat gotong royong dalam menjaga ketahanan sosial berbasis komunitas. Pemerintah tak bisa berjalan sendiri.
Bakesbangpol Jember melalui kegiatan ini menegaskan bahwa gelombang udara bukan hanya membawa suara, tapi juga harapan. Harapan untuk Indonesia yang tetap damai, bersatu dalam keberagaman, dan tangguh menghadapi krisis.
“Kita semua adalah penyiar damai. Tidak harus punya stasiun, cukup punya empati. Mari bersatu, dari frekuensi radio hingga ruang digital, untuk menjaga harmoni bangsa,” pungkas Dandy Radiant.
















