Negara- Amerika Serikat dan China Perseteruan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, kembali menghangat. Meski sempat ada upaya meredakan ketegangan, keputusan terbaru dari Washington menunjukkan bahwa AS tetap berpegang pada kebijakan tarif impornya yang sangat tinggi terhadap produk-produk dari China.
Dalam pernyataannya kepada CNBC pada Kamis (12/6/2025), Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menegaskan bahwa tarif impor Amerika terhadap China tidak akan berubah dalam waktu dekat. Angka ini merupakan kombinasi dari tarif menyeluruh sebesar 30% serta tambahan tarif khusus sebesar 25% yang sudah lama berlaku
Dengan total tarif sebesar 55%, beban biaya yang ditanggung oleh importir Amerika atas barang-barang China menjadi sangat tinggi. Hal ini tentu berdampak pada harga barang di pasar domestik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1559582/original/044764500_1491540844-20170406-Bertemu-di-Florida_-Donald-Trump-dan-Xi-Jinping-Saling-Lempar-Senyum-AP-9.jpg)
Baca Juga : Pelaku Curanmor dalam Kondisi Tidak Stabil Tak Ditahan Karena Gangguan Jiwa
Harapan Kesepakatan Final Masih Menggantung
Meski terjadi pertemuan lanjutan di London, hasilnya belum benar-benar final.
Salah satu poin penting dalam pembicaraan itu adalah kesediaan Tiongkok untuk memasok magnet dan tanah jarang (mineral tanah jarang) langsung ke Amerika Serikat. Produk-produk ini sangat penting bagi industri teknologi, keamanan, dan kendaraan listrik, yang saat ini sangat bergantung pada pasokan dari China.
Howard Lutnick menggambarkan hasil pertemuan di London sebagai “gencatan senjata Jenewa.” Artinya, kedua negara saat ini memang sepakat untuk meredakan ketegangan, namun sama sekali belum menyelesaikan akar masalah dari perang dagang yang sudah berlangsung
Beberapa isu yang masih menjadi ganjalan antara lain:
-
Hak kekayaan intelektual
-
Transfer teknologi
-
Ke neraca perdagangan
-
Dukungan subsidi pemerintah kepada perusahaan domestik
Semua isu ini memerlukan negosiasi lanjutan yang lebih dalam dan tentunya kesediaan kedua pihak untuk berkompromi.
Kenaikan tarif membuat harga barang naik, rantai pasok terganggu, serta menciptakan wilayah di pasar keuangan dunia.
Investor global kini terus memantau perkembangan negosiasi ini dengan cermat. Apalagi dalam situasi ekonomi global yang masih rapuh akibat dampak pandemi, konflik geopolitik, serta meningkatnya harga energi dan komoditas.
















